Struktur, Diksi, Gaya Bahasa, dan Karakteristik Feature Pendidikan di Surat Kabar

Bookmark and Share
Latar Belakang Masalah

Tahun 1960-an, di Amerika muncul istilah jurnalisme baru (new journalism) dalam bidang jurnalistik. Menurut Kurnia (2002) secara garis besar motivasi munculnya jurnalisme baru itu berawal dari penolakan para penulis dan redaktur mengenai cara kerja jurnalisme tradisional dan dasar-dasarnya yang membatasi kerja jurnalistik dalam kekakuan.
Fedler (1978) via Kurnia (2002: 08) membagi jurnalisme baru dalam empat jenis, yaitu: advocacy journalism, alternative journalism, precision journalism, dan literary journalism. Terkait dengan topik yang diangkat penulis, literary journalism atau dalam pengertian jurnalistik Indonesia diartikan sebagai jurnalisme sastra, sangat mendominasi.
Ellen Wilson dalam The Purple Decades: A reader (1982) seperti dikutip Mencher, via Kurnia (2002: 23) menyatakan bahwa Wolfe sebagai inspirator jurnalisme sastra merasa frustasi dengan gaya penulisan lama yang tidak mengakomodasi kemampuannya untuk mempertunjukkan kembali (recreate) atmosfer fakta-liputan. Wolfe membutuhkan gaya penulisan yang lebih fleksibel dan tidak biasa agar bisa menampung segala hal yang dihilangkan dalam straight news.
Persoalan yang kemudian muncul dari beberapa uraian di atas adalah, medium seperti apa yang dapat digunakan sebagai penyalur munculnya jurnalisme sastra itu? Menurut Kurnia (2002: 201), ketika jurnalisme memakai pendekatan sastra, teknik penulisan feature menjadi sarana bagi para jurnalis untuk mengembangkan gaya penulisan berita (news) yang mengupas masalah human interest, dan penulisan opini (views) sebagai sarana untuk memikat pembaca dengan sajian tulisan yang ringan, cair, dan tidak sulit dipahami.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa pilihan itu jatuh pada feature? Sebab feature merupakan jenis tulisan yang unik dan mempunyai nilai artistik tersendiri. Nilai artistik itu dapat terlihat dalam aspek-aspek feature yang bertujuan menyentuh kepekaan pembaca mengenai hal yang mengandung nilai human interest. Nilai human interest bisa berwujud dalam topik ringan seperti film, makanan, tempat pariwisata, pendidikan dan lain sebagainya. Gaya pemaparan yang ringan dengan pendekatan subjektivitas pengarang dapat menggiring pembaca seolah-olah berada dalam ruang kejadian yang dipaparkan pengarang. Kelebihan lain dari feature dibandingkan dengan news adalah penyajiannya yang tidak terikat aturan piramida terbalik dan dari segi waktu tidak cepat basi.
Adanya nilai artistik dan berbagai keunikan serta kekreativitasan mendorong jurnalisme untuk menempatkan feature sebagai bentuk tulisan jurnalistik yang khas (Kurnia, 2002: 202). Kekhasan feature itulah yang mendorong penulis mengangkatnya sebagai topik penelitian ini.
Secara umum, format wacana feature ada enam macam, yaitu (1) human interest feature (feature minat insani), (2) historical feature (feature sejarah), (3) biographical and personality feature (feature biografi), (4) travel feature (feature perjalanan), (5) explanatory and how to do it feature (feature keahlian atau petunjuk praktis), dan (6) scientific feature (feature ilmiah) ( Wolseley dan Campbell (Assegaf 1983 via Sumadiria 2005). Topik format wacana yang diambil dalam penelitian ini adalah travel feature. Dalam pengelompokan lebih sempit lagi adalah feature pendidikan.

KODE: LAIN-0005
KATEGORI: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar